Javanisme di Bumi Manusia

220px-bumimanusia_big
Hampir saja saya selesaikan bacaan novel klasik karya Pramoedya Ananda Toer yang berjudul Bumi Manusia yang bercerita tentang kehidupan seorang Minke, kompleks dengan permasalahan kehidupan sehari-hari pada Masa Koloinal Belanda. Mulai dari cerita pribadi, sampai dengan sudut pandang Minke tentang Nyai Ontosroh dan Annelies serta keluarga besarnya.

Banyak saya jumpai kebiasaan adat istiadat Jawa Klasik di dalam cerita. Adat istiadat Jawa Klasik ini, sebenarnya cukup menarik untuk diketahui karena saat ini menurut hemat saya sudah mulai ditinggalkan secara perlahan. Seperti budaya Sungkeman kepada pembesar.

Salah satu lembaran yang baru saya baca menceritakan tentang pertemuan minke dengan seoarang bupati yang sebelumnya tak dikenalnya. Ia harus melakukan sungkeman sejauh sepuluh meter dari tempat pembesar bupati itu berada. Tak ayal, ia juga diketuk dengan sebilah tongkat oleh bupati itu.

Penguasa besar seperti bupati memang disegani kala itu. Semua orang diwilayahnya mesti taat dan patuh padanya. Semua orang memberi hormat yang tinggi terutama para pribumi jawa. Mendekatinya saja harus bersimpuh dahulu. Berbicara padanya harus dengan nada yang rendah dan sopan. Segala kemauannya mesti dipatuhi. Jika tidak, dengan mengangkatkan tangan saja ia bisa memberi hukuman yang berat kepada seseorang.

Penghormatan kepada orang yang lebih tua yang cenderung berlebihan juga menjadi budaya jawa yang cukup menarik di masa Minke berada. Selalu saja memandang orang yang lebih tua yang lebih benar dan mesti dituruti. Jika membantah maka dianggap tidak sopan. Lantas bagaimana jika yang muda yang benar? Apakah itu dianggap tidak sopan juga? Itulah masalah-masalah yang dimunculkan oleh penulis dalam novel Bumi Manusia.

Intrik yang juga perlu diperhatikan adalah bentrok antara Ilmu Pengetahuan Eropa dangan adat istiadat Jawa. Tentang baca tulis contohnya. Masyarakat pribumi yang mayoritas belum bisa baca dan tulis termasuk para pembesar kala itu seperti cemburu dengan orang pribumi yang sudah bisa melakukannya. Akibatnya, mereka kadangkala menyetek mereka dengan panggilan kancut-kancut eropa. Sehingga, seperti terdapat jurang pemisah antara pribumi biasa dengan pribumi yang sudah terpelajar.

Menarik melihat bagamana seorang Minke yang terpelajar bergelut dengan adat istiadat jawa yang masih sangat kental dan menghadapi pergaulan orang-orang belanda dengan budaya eropa mereka yang lebih bebas. Javanisme dalam novel Bumi Manusia adalah paham tentang adat istiadat jawa yang mulai berhaluan ke arah yang lebih eropa.

Sejatinya, keluhuran merupakan budaya asli titipan nenek moyang bangsa Indonesia yang harus dilestarikan sebagai adat ketimuran yang baik. Oleh karena itu, keluhuran boleh saja diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, penggunaannya juga mesti diperhatikan. Utamanya waktu dan tempat serta situasi yang ada. Bukanlah hal yang bijak mempertahankan opini pribadi dibandingkan dengan opini orang lain walaupun kita mengetahui opini orang lain lebih beralasan daripada opini kita sendiri.

Dengan itu semua, saya menganggap Javanisme sebagai suatu paham yang menilai kelakuan seseorang dari sudut pandang keluruhan budaya jawa yang kental. Jika saya berbuat sesuatu yang sopan menurut saya belum berarti itu sopan menurut orang Java dari sudut pandang Javanisme, kira-kira seperti itulah contoh sederhananya.

Terlepas dari itu semua, saya masih menganggap Javanisme sebagai salah satu aset kekayaan budaya bangsa yang mesti dipelihara. Walaupun, terdapat beberapa hal yang mestinya disesuaikan dengan perkembangan jaman yang semakin maju.

Pola tingkah laku manusia dari waktu ke waktu mengarah kepada satu titik yang sama yakni kemudahan dan kebebasan. Jika kita tidak menyesuaikan diri dengan alur tersebut maka boleh jadi perkembangan kemajuan bangsa kita akan kurang maksimal dibandingkan dengan bangsa lain.

Namun, itu semua hanyalah sekedar opini saya, seorang pemula yang sedang belajar mengamati lingkungan sekitar. Saya kira itulah saja mengenai Javanisme menurut pandangan saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s