Konteks dan Prinsip Hidup

Setiap kesuksesan pasti ada tantangan yang telah dilewati. Saya sangat percaya bahwa sebuah proses yang baik tidak akan mengkhianati hasil. Terdengar klise memang, namun itulah prinsip hidup saya saat ini. Selaras dengan kata-kata mutiara dari seorang Business-Man tersohor China, Jack Ma dimana dalam suatu acara seremonial wisuda di Hongkong  ia  berkata bahwa

 “Hari ini sulit, besok akan semakin sulit namun esok lusa adalah hari yang indah. Banyak yang akan mati esok hari dan kau tidak akan mampu melihat matahari esok lusa kecuali kau bekerja dengan sangat keras hari ini.”

Kata-katanya sangat dalam. Sayapun sangat setuju dan terkesima dengan prinsip hidup yang ia pegang. Kerja keras adalah kunci untuk meraih kesuksesan. Apapun bidang kerja kita kalau kita tidak punya etos kerja yang baik saya kira akan sangat sulit bagi kita untuk berkembang lebih maju.

Berbicara tentang prinsip hidup, saya teringat kembali dengan salah satu teori  Konteks dan Konten yang dikemukakan oleh Robert Kiyosaki dalam bukunya yang terkenal Why A Stundent’s Work For C Student’s. Ia berkata bahwa, terdapat perbedaan mendasar antara konteks dan konten kehidupan seseorang. Konteks adalah shape atau medium sedangkan konten adalah isi dari konteks tersebut. Apapun konten yang dimasukan dalam konteks maka konten tersebut akan berbentuk seperti konteks. Ia dengan sederhana menganalogikan bahwa seperti cairan yang di tuangkan ke dalam gelas. Apapun jenis cairannya tidak akan mengubah bentuk gelas yang yang menjadi konteksnya.

Jadi, jikalau konteks kita adalah konteks orang yang pesimis maka apapun konten yang kita miliki dalam hal ini mungkin bisa berupa fasilitas yang lengkap atau kemampuan yang tinggi dalam suatu bidang maka saya kira kita tidak dapat berkembang dengan baik.

Konteks dalam hal ini adalah simbol dari sudut pandang dan pola pikir kita terhadap sesuatu hal. Berikut contoh dari konteks orang yang pesimis:

  • Saya tidak punya waktu
  • Saya tidak punya uang
  • Saya sangat sibuk dengan pekerjaanku

Dan beriku contoh dari konteks orang yang optimis:

  • Saya menyambut tantangan supaya bisa belajar lebih banyak
  • Saya ingin mencari tau sejauh mana aku bisa berkembang dalam kehidupan

See, terdapat perbedaan mencolok antara konteks orang yang pesimis dan konteks orang yang  optimis. Saya kira dengan adanya perbedaan tersebut akan membawa hasil yang cukup berbeda.

Olehnya itu, saya pun setelah membaca buku Robert kembali bercermin dan bertanya kepada diri apakah konteks saya sudah benar selama ini? Tentu saja masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Tapi, itulah hidup bagi saya, terus berbenah, mengevaluasi diri menjadi lebih baik dari hari ke hari. Bekerja sangat keras hari ini dan besok untuk menikmati hari yang indah esok lusa…

So keep your hardwork shape your Dreams!

 

Gowa – 17:11, 5 Juni 2017

Note : Tulisan ini ditulis di sebuah kamar kost kecil di wilayah kampus Teknik UNHAS sembari menunggu Azan magrib penanda waktu buka puasa di tanah rantau Daeng.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s