Menjadi Ber-Nilai

Menjadi yang terbaik adalah kunci untuk menang. Setidaknya begitulah kata orang. Semua punya pilihan. Dan semua punya harga untuk debeli bahkan ditukar dengan semuanya. Tidak ada yang tidak punya harga, semuanya punya. Namun, nilai tidak demikian adanya.

Nilai adalah kekuatan sejati yang timbul dari hasil kerja keras seseorang. Dengan menjadi bernilai semuanya pasti berharga. Disini kita mendapatkan kunci pertama yakni, Menjadi bernilai. Bernilai adalah ganjaran untuk orang yang berusaha secara konsisten pada suatu hal. Bisa jadi hal yang buruk baik pun juga demikian. Hal inilah yang menurut hemat saya menjadi pembeda satu individu dengan individu lainnya yang dikenal dengan budaya.

Budaya sepertinya hanya mencerminkan satu instrumen tunggal dari kebiasaan. Contohnya seperti budaya ‘sembah’ di jawa dulu kepada pembesar-pembesarnya. ‘Sembah’ ini adalah  kebiasaan yang menghamba ke pada pembesar umumnya seperti bupati. Budaya inipun menjadi kebiasaan yang dilakukan turun-temurun oleh orang jawa sampai dengan terjadinya peristiwa transisi yang saya namakan ‘revolusi kultur’ pada pertengahan abad ke-20.

Revolusi kultur saya definisikan sebagai penyesuaian tatanan sosial lama dengan yang baru atau sebagai filtrasi budaya asing. Kebanyakan memang lebih ke arah liberalis tapi saya lebih suka menjelaskan budaya asing tersebut sebagai suatu bentuk kesadaran publik. Istilah yang sebagian orang disebut sebagai belenggu sosial ini terjadi dilatarbelakngi oleh kekuatan yang belum pernah dijamah oleh mayoritas pribumi manapun saat itu dan menjadi barang mewah dikalangan para priyai dan nigrat yang bernama Pendidikan.

Saya sepakat bahwa pendidikan adalah awal mula dari pemberontakan, khususnya pemberontakan mental. Pemeberontakan mental adalah jenis pemberontakan yang juga mempelopori jatuhnya rezim diktator kekaisaran dunia. Seperti dinasti Qing di Cina, Kekaisaran Tsar di Rusia, Kekaisaran Jepang dan masih banyak lagi. Bukti-bukti tersebut cukup menjadikan Pendidikan sebagai ‘senjata’ yang ampuh untuk melakukan perlawanan.

Tali kaitan anatara nilai dan pendidikan pun cukup erat. Dengan menjadi ber-Pendidikan kita menjadi ber-Nilai. Dewasa ini, banyak orang  berlomba-lomba mengenyam pendidikan setinggi mungkin untuk menjadikan dirinya bernilai di dunia kerja. Namun, bisakah tanpa proses yang benar? Saya kira tidak demikian. Nilai sesungguhnya dari orang tersebut harus didapatkan secara benar, dengan Pendidikan yang Benar pula. Pendidikan yang Benar menurut hemat saya adalah proses belajar yang melibatkan Fisik, Mental dan Hati.

Maksud saya dengan Fisik adalah individu butuh gerakan dalam belajar. Tak boleh statis. Sekitar kita berubah dengan sangat cepat. Olehnya itu, kita pun harus bisa mengimbanginya. Dengan bergerak kita berarti telah melatih tulang dan daging kita untuk selalu bermobilitas. Selalu tidak nyaman dengan kondisi yang sama. Selalu haus akan inovasi. Dengan begitu, inovasi pun bisa di mulai. Langkah awal pembelajaran.

Yang kedua adalah mental. Mental yang dimaksud di sini adalah kekuatan kita untuk menerima kegagalan. Seberapa keras saya bisa menerima pukulan adalah kekuatan saya yang sebenranya. Pernah ada orang bijak berkata bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Dan saya kira memeang demikian. Dengan terjatuh kita bisa belajar banyak hal. Memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda adalah karunia terbesar seorang pelajar.

Dan yang terakhir adalah hati. Dengan memiliki hati kita bisa memaknai keseluruhan tindakan yang kita lakukan dalam sebuah proses. Dan kadang kala menjadi bahan bakar yang terus memopa kita untuk terus, terus , dan terus bekerja untuk meraih hasil. Hati yang kuat adalah ditentukan oleh seberapa besar kita mencintai apa yang kita lakukan. Semakin kita mencintai maka semakin kuat pula hati, perasaan, dan bahan bakar yang kita miliki untuk bergerak.

Setelah prosresnya kita lalui dengan benar maka saya yakin kita akan menjadi manusia yang bernilai dengan Pendidikan. Tinggal persoalan ke-konsistenan kita saja yang menjadi ancaman. Namun, dengan tujuan yang besar dan jelas saya percaya bahwa kita bisa melakukannya. Tak boleh mundur sebelum berperang bukan? Cobalah setiap hari meningkatkan wawasan dan keterampilan sebanyak yang dibutuhkan untuk meraih impian, tujuan. Membentuk insan yang mempunyai nilai yang tepat untuk pribadi sesuai tujuan. Tapi ingat, semua pasti ada harganya.  Apakah anda siap?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s