Busana Baru untuk Anakku

Hari kemenangan telah berada di ambang  pintu. Seperti biasanya,  Orang ramai berbondong  memburu pakaian dan perlengkapan baru untuk menyambut hari yang fitri ini. Pasar sentral semakin membludak dengan kepadatan manusia yang tak kunjung surut.  Lorong-lorong pasar menjadi semakin sempit untuk dilewati. Tak mengenal usia, semuanya sibuk melakukan tawar menawar dengan pedagang  yang terus berteriak ke segala penjuru memamerkan barang dagangannya.  Tampak seperti suatu kekacauan memang bila kita berada ditengah-tengah mereka.

Sesorang tampak di sudut pasar berdiri sambil memandangi gaun gamis muslimah putih yang berbinar diterpa cahaya matahari. Manik-maniknya beruntaian secara melingkar di sepanjang leher gaun itu. Belum lagi dengan desainnya yang bermotif batik berbentuk mendaun dari atas sampai bawah ditutupi oleh selendang putih panjang yang membuat gaun itu menjadi semakin menarik dan terlihat mahal. Namun, pikirannya telah melayang-layang membayangkan anak gadisnya yang berumur 15 tahun mengenakan gamis yang indah itu. Sambil tersenyum dalam hati ia berkata bahwa anaknya akan tampak sangat cantik dengan gamis itu. Selepas itu, ia pun melangkah meneruskan perjalanannya.

Lelaki itu bernama Firman. Firman adalah seorang pekerja serabutan. Ia bersedia di panggil  kerja apa pun asalkan “menghasilkan” dan “halal” untuk menafkahi keluarganya. Ia sekarang berumur 48 tahun dengan seorang anak tunggal dan seorang istri. Keadaan ekonomi keluarganya memang cukup memprihatikankan. Keluarganya hanya mengandalkan upah sang ayah yang bekerja sering sebagai buruh kebun dan pelabuhan namun tak jarang juga sebagai sopir truk dan kurir untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Jangankan membeli pakaian mahal, untuk makan pun mereka masih kesulitan.

Beberapa hari yang lalu, Suci anak gadis Pak Firman, begitulah ia sering di panggil,  cemburu melihat teman-teman sebayanya sibuk mencoba busana lebarannya yang baru. Ia pun memelas meminta sang ayah untuk membelikan busana baru untuk dipakainya di hari lebaran. Pak Firman yang baru saja pulang dari bekerja pun langsung tertegun, berpikir tentang cara untuk mewujudkan keinginan anak gadis kesayangannya.

Akhirnya Keesokan harinya, Pak Firman berjalan melewati pasar dan menuju rumah seorang pengusaha tempat ia sering bekerja sebagai buruh kebun. Setelah bertemu dengan pengusaha tersebut, dengan mata berkaca-kaca dan suara merendah ia mengutarakan  isi hatinya, bahwa anak gadisnya menginginkan busana baru untuk dikenakannya di hari lebaran dan Ia sangat ingin mewujudkan keinginan anak kesayangannya tersebut, namun ia sama sekali tidak mempunyai uang sehingga ia meminta kepada sang pengusaha agar diberi pekerjaan tambahan.

Mendengar permintaan Pak Firman akhirnya sang pengusaha menjadi iba. Ia langsung mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang tiga ratus ribu rupiah dan memberikannya kepada Pak Firman. Pengusaha tersebut berkata bahwa Pak Firman boleh mengambil uang ini tanpa melakukan pekerjaan apapun. Ia juga berpesan agar memilih  busana yang bagus untuk anaknya. Sambil menangis Pak Firman menjabat tangan pengusaha yang budiman itu seraya berterima kasih atas kedermawananya. Ia pun kembali ke pasar dan membeli gamis yang ia idamkan untuk anaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s