Golongan Indisch

Terdapat sebuah bangsa yang memiliki keanekaragaman suku, budaya, dan bahasa pada sebuah negara di kepualauan asia tenggara. Sebuah bangsa yang  memiliki perbedaan visi dan pandangan hidup apalagi kepentingan. Raja-rajanya  dulu  pun bertikai antara satu dengan lainnya karena kekuasaan dan arogansi pribadi antara satu sama lain. Perbedaan inilah yang menjadi masalah serius ketika penyatuan awal mula sebuah negara yang bernama Indonesia.

Pada awal mulanya, mayoritas masyarakat belum mengenal apa itu negara, apa itu merdeka, apa itu berdaulat. Mereka masih buta akan hal-hal yang berbau demokrasi. Al hasil, jadilah mereka pesuruh di negara mereka sendiri. Diperintah oleh orang asing,  sedikit yang senang, banyak yang sedih. Namun, mereka tak bisa  berbuat apa-apa. Mereka hanya tau tunduk, patuh, dan menurut saja. Terombang-ambing mengikuti gelombang kolonial gubermen, masyarakat saat itu seperti perahu kecil yang mencoba bertahan dalam badai.

Ya, benar. Badai. Badai kebutaan akan pengetahuan tentang kebebasan. Namun, itu berubah dengan dirintisnya organisasi, tepatnya organisasi pergerakan. Organisasi yang membuka wawasan orang banyak akan pentingnya suatu kemerdekaan. Pada awal mula berdirinya organisasi seperti Budi Utomo dan Syarikat Dagang Islam, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini dibuktikan dengan pertumbuhan keanggotaan yang cepat. Namun sayangnya, pergerakan yang dilakukan oleh kedua organisasi ini tersendat karena belum memenuhi hasrat perjuanggan sesungguhnya dari bangsa kita. Sebuah Bangsa yang ganda.

Bangsa ganda adalah kerangka bangsa yang besar ini. Bangsa yang disebut sebagai indisch atau bangsa-bangsa di Hindia. Seperti yang kita ketahui, hampir semua bangsa di Hindia dahulu dikuasai oleh kolonialisme Belanda. Mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Sehingga, penduduk di pulau-pulau tersebut memiliki perasaan  yang sama terhadap kolonialisme Belanda, penindas.  Inilah yang kemudian menjadi landasan golongan indisch untuk membentuk organisasi pergerakan yang bersifat plural yang terdiri tidak hanya dari satu suku saja atau dari satu agama saja, namun dari variasi masyarakat Hindia yang mau berjuang bersama untuk meraih kebebasan, meraih kemerdekaan.

Baik secara diplomatis maupun bentrokan fisik, golongan indisch tak kenal lelah untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak-haknya. Baik itu pagi, siang, dan malam, mereka terus memikirkan bagaimana caranya agar bangsa ini bisa terbebas dari penjajahan, bukan hanya dari Belanda tetapi juga dari negara yang hendak atau punya keinginan untuk menjajah. Kemerdekaan seratus persen atau mati, itulah slogan golongan indisch.

Persaudaran golongan indisch menurut hemat saya menjadi alasan terbentuknya Indonesia. Terdapat perasaan senasib sepenanggungan antar masyarakat kita yang tidak melihat latar belakang apapun namun melihat satu sama lain lebih sebagai saudara seperjuangan. Semoga saja semangat dan perasaan golongan indisch ini dapat tetap lesatari di dalam insan masyarakat kita, masyarakat Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s