Simponi Sore Hari

beach-1845810_960_720
Sumber: https://pixabay.com/en/beach-boat-dawn-dusk-nature-ocean-1845810/

Tepat pukul 16:00, perlahan mulai ku jejakan kaki di tanah beraspal yang memanjang sampai ke pertigaan sebuah lorong kecil, menuju jembatan kayu tua yang mulai lapuk. Perlahan-lahan ku melangkahkan kaki menuju ujung jembatan beratap jelajah yang teduh. Udara sore hari berhembus sepoi-sepoi bercampur dengan aroma laut yang khas membuat pikiranku menjadi rileks. Menyaksikan simponi lautan yang bergelombang bersama dengan aktivitas manusia di sekitarnya sungguh menyenangkan.

 

Sayup-sayup kulihat seseorang duduk bersandar diatas dipan sampan tidak jauh dari jembatan ini. Ia memegang tali pancing nilon tebal dan memakai topi bundar melebar yang sering dipakai oleh nelayan di daerah ini. Aku bertanya berbisik padanya, “hei pak tua sudah dapat kah kau ikan?”, “belum, umpanku saja masih utuh sampai sekarang” ucapnya sambil tertawa kecil. “mungkin ikan lagi kenyang sekarang pak tua” kelakarku. “sepertinya begitu, hari ini bukan hari terbaiku memancing, anak muda”  jawabnya dengan tersenyum.

Aneh juga pak tua ini, tidak dapat ikan kok malah tenang-tenang saja. Dengan sabar kembali pak tua itu menggulung tali pancingnya ke permukaan dan memeperbaiki umpannya yang longgar karena arus laut. Setelah itu, iapun melempar umpannya sejauh mungkin dari sampan sembari perlahan mulai bersandar kembali di atas dipan sampan sambil memegang erat tali pancingnya. Dari pakaian dan perawakannya, pak tua ini tidak seperti orang yang memancing untuk bersenang-senang. Malahan, ia seperti orang yang  menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapannya hari demi hari.

Aku terkagum dengan ketenangannya yang murni terpancar dari dalam jiwa yang tulus dan sabar. Bahasa tubuhnya seperti mencerminkan ia sudah mendapatkan banyak ikan saja. Andaikan saja kita bisa sepertinya, tenang dan damai dalam pekerjaan kita. Bekerja seperti kita telah mendapatkan upah diawal. Tidak mengeluh, menunggu, bersabar, dan yang paling penting bahagia dan bersyukur. Ia analogi yang cocok dari kecakapan emosional seorang manuisa. Salut buat pak tua ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s