Ngetrip Ke Bawakaraeng

 

 

 

20170827_065655

Bawakaraeng merupakan gunung yang terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Gunung ini menjadi salah satu spot pendakian yang diminati oleh para climbers di Indonesia dengan ketinggian 2830 MDPL. Tidak terlalu tinggi namun cukup menantang untuk seorang pendaki pemula seperti saya. Beberapa teman-teman  meyarankan agar saya mengubah rencana pendakian saya ke bawakaraeng ke tempat lainnya yang lebih dekat. Namun, saya tetap berisikeras bersama kedua orang teman saya untuk mencapai puncak bawakaraeng ini.

Alhasil, tanggal 24 Agustus 2017 tepat pukul 16:00 kami bertolak dari Jl. Poros Malino, Gowa menuju Lingkungan Lembanna yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Setibanya kami di sana, kami pun menuju rumah Alm. Dg. Rasyid atau lebih akrab disapa dengan tata rasyid yang sudah berpulang beberapa bulan lalu. Di rumah almarhum kami disapa dengan akrab oleh penghuni rumah yang sayapun sampai sekarang belum tau siapa nama beliau 😊, namun keramahtamahannya membuat saya dan teman-teman sangat nyaman di rumah ini.

Rencana pendakian kami  ke puncak bawakaraeng adalah pukul 20:00. Kami memilih waktu malam karena biasanya cuaca bersahabat. Ketika waktunya tiba, berangkatlah kami menuju pos awal, pos 1. Dalam perjalanan cuaca mulai agak berubah dengan tiupan angin yang menjadi kencang. Pohon-pohon di sekitar kami bergesekan antar satu sama lain sehingga menimbulkan bunyi yang berdecit. Ditengah perjalanan ke pos 1, kami bertemu dengan  sekelompok pendaki yang sedang duduk berteduh. Mereka menyarankan kami agar beristirahat sejenak sembari meunggu cuaca menjadi lebih bersahabat.

Setengah jam berlalu namun cuaca tak kunjung bersahabat. Kami pun memutuskan untuk kembali ke rumha tata rasyid untuk beristirahat sambil menunggu pagi menjelang. Tepat jam 6:15 kami tiba di rumah Alm. Tata rasyid. Agak kecewa memang harus kembali ke rumah ini namun keputusan ini lebih baik karena keselamatan adalah faktor prioritas kami. Singkat cerita, pada pukul 8:30 kami pun melanjutkan perjalanan.

Dengan ucapan Bismillahirrahmannirrahim, kaki pun bertolak menuju pos 1 bawakaraeng. Matahari pagi itu bersinar dengan indahnya menyinari embun pagi yang masih sayup-sayup beterbangan di sekitar pepohonan. Aliran sungai yang mengalir jernih serta burung-burung yang bersiul bersahut-sahutan menambah sempurnanya harmonisasi alam hutan di bawakaraeng ini.

Trek ke pos 1 belum terlalu curam. Hanya ada hutan-hutan kecil dan semak-semak belukar. Panduan jalan ke pos 1 ini juga cukup jelas sehingga kami bisa tiba dengan cukup mudah. Setelah kami tiba di pos 1, kami langsung melanjutkan perjalanan ke pos 2. Carrel 55 L yang di jenjeng tidak terasa beratnya karena pikiran saya sudah melayang-layang di puncak bawakaraeng. Hehe. Setibanya kami di pos 3, kami pun beristirahat sejenak. Di pos ini ada aliran arus sungai yang cukup besar dan airnya pun jernih sehingga dapat diminum langsung, kami pun mengambil pasokan air dari sungai ini sebagai persdiaan air minum. Setengah jam berlalu, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Perjalanan ke pos 4 dan 5 ditempuh dengan waktu yag cukup lama. Kami melewati hutan yang lebat sehingga intensitas cahaya matahari yang masuk kurang dibandingkan dengan tempat sebelumnya. Medannya saya akui belum terlalu curam. Namun, mata kita harus jeli melihat tanda panduan penunjuk jalan yang berupa kulit makanan ringan yang diikat pada ranting pohon di sekitar kita.

Di pos 5, terdapan padang savana yang sangat luas namun berbatu. Biasanya di pos ini digunakan sebagai tempat camping pendaki sebelum menuju puncak. Namun, kami tidak punya waktu, kami pun melanjutkan perjalanan ke pos 6, 7, dan 8.

Medannya luar biasa curam. Butuh kehati-hatian ekstra dari kami. Tidak mudah bagi seorang pendaki pemula seperti saya untuk melewatinya. Namun, tekad dan semangat tetap kuat untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak. Di pos 8, kami beristirahat sambil mebuat makanan dari ransum yang kami bawa. Kemudian, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Perjalanan ke pos 9, kita sudah bisa melihat awan yang telah sejajar dengan kita. Hawa dingin mulai  menembus baju yang basah karena keringat. Kaki mulai pegal luar biasa namun tetap ditahan. Tak ada kata istirahat. Kami tetap melanjutkan perjalanan sampai ke puncak.

Matahari telah tenggelam. Malam telah larut. Namun akhirnya kami bisa sampai ke lokasi camping terakhir. Tenda pun kami rakit, barang-barang kami susun dengan apik. Setelah itu, kami istirahatkan badan yang lelah.

Keesokan harinya, belum sampai pukul 6:00. Saya bangun dan berjalan menuju puncak. Panoramanya luar biasa. Matahari muncul perlahan mengintip dan kemudian menerangi cakrawala. Kilauan cahayanya menghangatkan kulit yang kedinginan. Saya pun terduduk kaku menyaksikan keindahan puncak bawakaraeng. Akhirnya, Sempurna sudah, pendakian pertamaku di Puncak Bawakaraeng.

Note :

Total waktu pendakian kami adalah 10 jam 30 menit. Sedangkan, waktu turun kami adalah 5 jam 10 menit. Bagi teman-teman yang ingin mendaki ke puncak bawakaraeng saya sarankan agar bawa persediaan ransum yang cukup dan jangan terburu-buru atau dipaksakan. Ingat, kita tidak bisa melawan alam. Tx for reading, see u in my next trip 😊

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s